2012 - Kanal Alutsista Indonesia

Breaking

Sabtu, 03 November 2012

Panser Anoa 6x6 buatan PT Pindad banyak dipesan oleh negara tetangga.


Pekerja menyelesaikan tahap akhir produksi Panser Anoa 6x6
Pekerja menyelesaikan tahap akhir produksi Panser Anoa 6x6 (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - PT Pindad (Persero), salah satu produsen alat utama sistem persenjataan dalam negeri sedang naik daun. Senjata buatannya ditaksir banyak negara. Pindad yang berdiri sejak 1983 ini memang khusus memproduksi berbagai macam alat, terutama peralatan dan perlengkapan perang.

Saat VIVAnews menyambangi pabrik PT Pindad di gedung 100, Bandung, Selasa kemarin, 16 Oktober 2012, terlihat para pekerja sedang menyelesaikan tahap akhir pembuatan Panser Anoa 6x6 pesanan TNI Angkatan Darat. 

Panser yang dibanderol Rp8 miliar perunit ini juga dilirik dan dipesan oleh beberapa negara tetangga. Jika ditotal dengan pesanan dari negara luar, Panser Anoa yang dibuat PT Pindad sudah diproduksi 200 unit.

Panser Anoa terdiri dari beberapa varian. Yakni, Panser Anoa Varian Command, Ambulance, Logistik, Mortar 81, APC, dan Recovery.

"Karakteristik umum Anoa 6x6 itu high reliability, high mobilitiy, easy operation, dan maintainabilitiy," kata Kepala Sekretariat Perusahaan PT Pindad, Iwan Kusdiana



Sumber : VIVAnews

Panser Anoa, Alat Tempur "Matic" Buatan Pindad

Panser Anoa menjadi produksi PT Pindad yang paling laris terjual.


Presiden SBY mengendarai Panser APS-3 Anoa Produksi PT Pindad
Presiden SBY mengendarai Panser APS-3 Anoa Produksi PT Pindad (presidensby.info)

Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) produksi dalam negeri kini mulai diminati negara-negara luar negeri. Salah satu produsen dalam negeri paling dilirik adalah PT Pindad (Persero).

Menurut Kepala Sekretaris Perusahaan PT Pindad, Iwan Kusdiana, PT Pindad memproduksi sejumlah peralatan, di antaranya senjata, munisi, dan panser. Salah satu paling diminati selain senjata, adalah Panser Anoa.

Iwan menjelaskan, Panser Anoa buatan PT Pindad ini dibuat dengan mesin automatic. "Ini sudah matic. Jadi seperti kita mengendarai Honda Jazz atau lainnya posisi di D itu dia sudah jalan sendiri. Mesinnya kita pakai Renault, transmisinya ZR, sehingga bisa dikendarai dengan sistem otomatis," kata Iwan di PT Pindad, Bandung, Jawa Barat, Selasa 16 Oktober 2012.

Cuma bedanya, lanjut Iwan, bagaimana pun juga Panser Anoa merupakan kendaraan tempur, di mana saat melaju di medan-medan yang sangat extrem seperti di lumpur atau lainnya, maka tidak direkomendasikan di posisi D. "Kita rekomen posisi 1 atau 2 untuk menyeimbangkan dengan medannya," kata dia.

Iwan menjelaskan, mesin matic Panser Anoa bisa diatur dalam posisi full otomatis atau dibatasi gigi otomatisnya. "Jadi kalau di lokasi extrem dia bisa main di posisi 1 atau posisi 2, tidak perlu diatur sampai full otomatis," ujar dia.

Menurutnya, negara-negara luar memang menunjukkan ketertarikannya terhadap Panser Anoa ini. Dan PT Pindad juga akan melakukan kustomisasi sesuai permintaan negara berminat. "Misalnya Filipina, dia minta mesinnya pakai mesin Mercy. Jadi kita sesuaikan permintaan dia," kata dia.

Meski begitu, Iwan mengakui, belum ada satu negara pun yang sudah deal untuk membeli alutsista buatan PT Pindad, khususnya Panser Anoa. Semua masih dalam tahap penjajakan.

"Belum ada deal. Yang sudah ada deal itu cuma dari dalam negeri. Negara luar yang sudah penjajakan, itu Malaysia, kemarin dia minta 31 Panser Anoa. Brunei Darussalam 10 buah. Ada juga dari Irak. Kalau fix, nanti ada kontrak pembelian," ujar Iwan.

Anoa Paling Laris

Panser Anoa menjadi produksi PT Pindad yang paling laris terjual. Meski, pembelinya masih dalam negeri, seperti TNI dan Polri. Bahkan, karena Anoa ini, penjualan PT Pindad menjadi melambung. "Secara penjualan sedikit, tapi omzetnya besar. Kita sampai 2008, ada omzet Rp1,13 triliun. Karena itu penjualan PT Pindad didongkrak oleh penjualan Anoa," ujar Iwan.

"Itu omzet dalam negeri saja. Karena harga untuk luar negeri itu beda," ujarnya.

Pada tahun 2008, dia menambahkan, TNI memesan 154 buah Panser Anoa berbagai tipe. Untuk tahun 2011 TNI memesan 11 Panser Anoa tipe APC. "Tahun ini pesan 61 unit," kata dia.

"Tipe Anoa itu ada tipe APC, Ambulan, Recovery, Logistik, Amunisi. Itu sudah tersebar di berbagai Kodam. Siliwangi, Makassar, Timika, dan lain-lain," ujarnya.

Iwan menjelaskan, Panser Anoa memang digunakan untuk pengamanan juga. "Biasanya pengamanan tamu-tamu penting VVIP atau ada kunjungan Presiden keluar kota," ujar Iwan.



Sumber :  VIVAnews

TNI AD yakin alutsista buatan anak negeri tak kalah dengan asing.

Jenderal Pramono Edhie Wibowo
Jenderal Pramono Edhie Wibowo

TNI Angkatan Darat tetap memprioritaskan senjata-senjata buatan dalam negeri untuk kebutuhan alat utama sistem persenjataan atau alutsista. TNI Angkatan Darat yakin alutsista buatan anak negeri tak kalah dengan produksi asing, terutama buatan PT Pindad.

"Kami utamakan dan usahakan tetap menggunakan alutsista produk dalam negeri. Alutsista utama yang digunakan prajurit adalah senjata," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta Pusat, Senin 22 Oktober 2012.

Menurut Pramono, TNI AD senjata-senjata dalam negeri yang digunakan prajuritnya bukan hanya menjadi alat utama yang dipakai. Tapi sudah menjadi senjata unggulan saat tampil di ajang internasional.

"Kemarin bertanding di lomba tembak level ASEAN kita jadi nomor satu. Dan itu sudah diakui negara tetangga," kata adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Dengan penggunaan senjata buatan dalam negeri dalam perlombaan menembak, lanjut Pramono, negara-negara tetangga malah jatuh hati. Bahkan hendak membelinya.

"Kami menggunakan produk dalam negeri dalam lomba tembak itu. Sampai negara tetangga ingin membeli senjata yang kita gunakan itu," ujarnya.

Senjata yang dimaksud Pramono adalah senjata buatan PT Pindad (Persero), yakni Senapan Serbu versi 1 (SS1) dan SS2. "Juga Panser Anoa yang sudah dibuat tidak kami beli dari luar. Helikopter yang dibuat PT Dirgantara Indonesia juga tidak kami beli dari luar," ujarnya. (umi)


Sumber : VIVANEWS


PUNA diproyeksikan ke dalam Skuadron TNI AU.

Uji Terbang Pesawat Terbang Tanpa Awak Wulung

Pengembangan PUNA ini harus mengacu beberapa sisi. Salah satunya dari sisi kepentingan pengguna, yakni TNI Angkatan Udara.Karena PUNA akan  diproyeksikan ke dalam Skuadron TNI AU.Dan Untuk sementara ini skuadron yang akan di bangun memang untuk pengintaian atau pengamatan wilayah (surveillance).
 
 Tak hanya surveillance, PUNA ini akan diharapkan bisa dikembangkan untuk medan perang. Karena itu, pengembangan pesawat yang dinamai Wulung itu akan dikaji agar dipersenjatai dengan rudal. Dan, PUNA ini juga dapat dijadikan sebagai bombing, seperti Kamikaze pesawat pilot tunggal tentara Jepang yang menabrakan ke Pangkalan AS Pearl Harbour.
 
 








Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah berhasil membuat pesawat tanpa awak



Uji Terbang Pesawat Terbang Tanpa Awak Wulung
Pada tanggal 11 oktober 2012, anak bangsa ini telah berhasil menuji coba pesawat tanpa awak. atau pesawat udara nir awak, (PTTA/PUNA) yang dikasih nama " WULUNG ".

Disamping untuk kepentingan TNI yaitu berfungsin dapat menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unmaned Combat Aerial Vehicle .Disamping untuk kepentingan pertahanan, pesawat ini memiliki kelebihan, di antaranya difungsikan sebagai pemantau dari udara karena pesawat ini dilengkapi kamera. "Selain itu pesawat ini dapat digunakan juga untuk kepentingan sipil, seperti penanganan kebakaran hutan untuk membawa air hujan buatan.

Pesawat PUNA ini merupakan hasil pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenhan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dalam pengembangan pesawat, imbuhnya, perlu kesiapan sumber daya manusia yang handal sebagai pengawak serta fasilitas pendukung lainnya. Tujuannya, unit ini siap diproyeksikan untuk pembentukan Skuadron PTTA/PUNA TNI Angkatan Udara.***(SA online)

UU Industri Pertahanan Bikin Alutsista RI Makin Diminati Asing

Sejumlah negara saat ini sudah mengimpor alutsista produksi RI.


Panser APS-3 Anoa produksi PT Pindad.
Panser APS-3 Anoa produksi PT Pindad.
 
Dengan di syahkan UU Industri pertahan, kepercayaan negara negara di dunia terhadap persenjataan tempur buatan Indonesia semakin diminati. Saat ini ada beberapa nagara yang sedang mengimpor dan mempergunakan alutsista buatan Indonesia untuk kepentingan militernya.  Pengesahan UU Inhan ini diyakini DPR dan pemerintah akan menjadi angin segar bagi industri pertahanan RI yang saat ini tengah bangkit.
  Pengesahan UU Inhan ini diyakini DPR dan pemerintah akan menjadi angin segar bagi industri pertahanan RI yang saat ini tengah bangkit.

Di bawah UU Inhan sebagai payung hukum yang kuat, maka industri pertahanan RI diharapkan akan menjelma menjadi industri yang mandiri, unggul, dan berdaya saing tinggi. Produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) RI pun kini akan lebih bermutu.
  Saat ini saja kualitas produk alutsista kita diakui oleh negara lain. Jadi kalau pengembangan teknologi dan kualitas pembuatan alutsista kita dorong terus lewat UU Inhan, bisa dibayangkan potensi industri pertahanan kita ke depannya (SAO)
 

Videos